Bayi ODHA bisa diselamatkan dengan Operasi Caesar

Probolinggo,
Jurnalis Warga – Bayi yang lahir dari pengidap HIV-AIDS (Human
Immunodefeciency Virus – Acquared Immuno Deficiency Syndrome) bisa
diselamatkan dengan cara persalinan Operasi Caesar, seperti yang
disampaikan Yuni, Konselor ODHA Poli VCT RSUD Waluyo Jati Kraksaan
Kabupaten Probolinggo (04/07). Virus AIDS pada Bayi ditularkan oleh
ibunya yang mengidap AIDS, tetapi jika penangannya sesuai SOP (standar
Operasional Prosedure) Bayi ODHA bisa diselamatkan dan sembuh. Penularan
AIDS dapat terjadi melalui 4 hal, pertama melalui hubungan seksual
(homo maupun hetero seksual) dengan seorang yang yang tubuhnya mengidap
AIDS, kedua tranfusi darah yang mengandung virus HIV, ketiga melalui
alat suntik atau alat tusuk lainnya (akupunctur, tato,
tindik) bahkan alat cukur kumis/jenggot bekas dipakai orang yang
mengidap virus AIDS, keempat pemindahan virus dari ibu hamil yang
mengidap virus AIDS kepada janin yang dikandungnya.Dr. Asjroel
Syakrie, Kabid Pelayanan Medis RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo,
menegaskan bahwa penanggulangan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) di RSUD
Waluyo Jati sudah maksimal, menyangkut pembiayaan bisa menggunakan
Jamkesmas, Jampersal, Dana Pendamping bahkan untuk memberi dukungan
moral kepada mereka, pihaknya sampai mengadakan OWJ (Opera Waluyo Jati)
istilah yang diberikan Bupati Probolinggo, Hj. Puput Tantriana Sari.
Lebih lanjut dr. Asjroel menjelaskan bahwa RSUD Waluyo Jati perlu
menambah alat CD4 (pendeteksi imunitas tubuh akibat serangan HIV), dan
selama ini kami kerjasama dengan RSUD Saiful Anwar Malang. ODHA tidak
dipungut biaya (gratis) mulai dari kendaraan, registrasi, adminitrasi,
pemeriksaan sampai penanganan.
Zubaer, seorang relawan ODHA
menceritakan pengalamannya selama pendampingan, hal terberat yang
dirasakan ODHA bukanlah sakitnya mengidap AIDS, tetapi lebih kepada
penolakan masyarakat yang begitu besar terhadap pengidap AIDS. Pernah
dirinya melakukan testimoni terhadap masyarakat dan hasilnya hanya 0,1 %
masyarakat yang menerima sedangkan 99,09% menolak, sangat menyakitkan.
Stigma negatif masyarakat sangat sulit dirubah, tetapi kami akan terus
berjuang untuk memberikan wawasan terutama kepada keluarga ODHA. Bahwa
hidup serumah, bersentuhan kulit, bersin, batuk, makan minum bersama,
berbagi makanan, gigitan nyamuk/serangga yang berpindah, menggunakan
fasilitas kamar mandi/toilet bersama tidak akan tertular virus HIV
selama tidak melakukan hubungan seksual, ujar Zubaer bersemangat. SP
pengidap AIDS asal Kecamatan Besuk mengatakan bahwa dirinya sangat puas
dengan pelayanan Poli VCT RSUD Waluyo Jati tetapi juga sangat sedih
dengan sikap masyarakat yang belum bisa menerima ODHA sebagai manusia
yang layak mendapat tempat dimuka bumi. (JW BUKHARI-KAB.PROBOLINGGO)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar