Kamis, 04 Juli 2013

Bayi ODHA bisa diselamatkan dengan Operasi Caesar

Probolinggo, Jurnalis Warga – Bayi yang lahir dari pengidap HIV-AIDS (Human Immunodefeciency Virus – Acquared Immuno Deficiency Syndrome) bisa diselamatkan dengan cara persalinan Operasi Caesar, seperti yang disampaikan Yuni, Konselor ODHA Poli VCT RSUD Waluyo Jati Kraksaan Kabupaten Probolinggo (04/07). Virus AIDS pada Bayi ditularkan oleh ibunya yang mengidap AIDS, tetapi jika penangannya sesuai SOP (standar Operasional Prosedure) Bayi ODHA bisa diselamatkan dan sembuh. Penularan AIDS dapat terjadi melalui 4 hal, pertama melalui hubungan seksual (homo maupun hetero seksual) dengan seorang yang yang tubuhnya mengidap AIDS, kedua tranfusi darah yang mengandung virus HIV, ketiga melalui alat suntik atau alat tusuk lainnya (akupunctur, tato, tindik) bahkan alat cukur kumis/jenggot bekas dipakai orang yang mengidap virus AIDS, keempat pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus AIDS kepada janin yang dikandungnya.Dr. Asjroel Syakrie, Kabid Pelayanan Medis RSUD Waluyo Jati Kraksaan Probolinggo, menegaskan bahwa penanggulangan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) di RSUD Waluyo Jati sudah maksimal, menyangkut pembiayaan bisa menggunakan Jamkesmas, Jampersal, Dana Pendamping bahkan untuk memberi dukungan moral kepada mereka, pihaknya sampai mengadakan OWJ (Opera Waluyo Jati) istilah yang diberikan Bupati Probolinggo, Hj. Puput Tantriana Sari. Lebih lanjut dr. Asjroel menjelaskan bahwa RSUD Waluyo Jati perlu menambah alat CD4 (pendeteksi imunitas tubuh akibat serangan HIV), dan selama ini kami kerjasama dengan RSUD Saiful Anwar Malang. ODHA tidak dipungut biaya (gratis) mulai dari kendaraan, registrasi, adminitrasi, pemeriksaan sampai penanganan.
Zubaer, seorang relawan ODHA menceritakan pengalamannya selama pendampingan, hal terberat yang dirasakan ODHA bukanlah sakitnya mengidap AIDS, tetapi lebih kepada penolakan masyarakat yang begitu besar terhadap pengidap AIDS. Pernah dirinya melakukan testimoni terhadap masyarakat dan hasilnya hanya 0,1 % masyarakat yang menerima sedangkan 99,09% menolak, sangat menyakitkan. Stigma negatif masyarakat sangat sulit dirubah, tetapi kami akan terus berjuang untuk memberikan wawasan terutama kepada keluarga ODHA. Bahwa hidup serumah, bersentuhan kulit, bersin, batuk, makan minum bersama, berbagi makanan, gigitan nyamuk/serangga yang berpindah, menggunakan fasilitas kamar mandi/toilet bersama tidak akan tertular virus HIV selama tidak melakukan hubungan seksual, ujar Zubaer bersemangat. SP pengidap AIDS asal Kecamatan Besuk mengatakan bahwa dirinya sangat puas dengan pelayanan Poli VCT RSUD Waluyo Jati tetapi juga sangat sedih dengan sikap masyarakat yang belum bisa menerima ODHA sebagai manusia yang layak mendapat tempat dimuka bumi. (JW BUKHARI-KAB.PROBOLINGGO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar